Oegroseno: Kelalaian polisi tidak langsung OOJ, hanya pelanggaran profesi

Dunia-Ilmu.com, JAKARTA – Mantan Wakil Kapolri Komjen Paul (Purn) Ogroseno berharap ke depan, kelalaian dalam menjalankan tugas kepolisian tidak menjadi halangan untuk menegakkan keadilan (OOJ).

 

Menurut Ogroseno, pengujian etika sudah cukup.

 

“Saya mengikuti kasus ini (OOJ tewasnya Brigadir J di Duren Tiga. Harapannya untuk menyelamatkan Polri ke depan. Kenapa dikaitkan dengan OOJ, kegiatan kepolisian terkait dengan TKP. Polisi tidak lalai, cuek atau sengaja di TKP,” kata Ogroseno di Jakarta Selatan, kata Pengadilan Negeri, Jumat (20/1/2023) malam.

 

“Jangan lakukan OOJ secara langsung, jadi cukup mengasosiasikan dengan pelanggaran profesional, cukup menangani secara internal.”

 

“Itu yang saya khawatirkan, kalau dibawa ke sistem peradilan pidana jangan disalahgunakan pengaturan lalu lintas di jalan raya oleh OOJ,” lanjutnya.

 

Baca juga: Eks Wakapoliri Ogroseno Sesali Perbuatan Ferdi Sambo: Kenapa Bawahan Dibunuh Kalau Salah?

 

Kematian Briptu J oleh Duren Tiga terkait terdakwa OOJ. Oegroseno mengatakan TKP salah dan para terdakwa sudah menjalani sidang etik.

 

“Mungkin ada kesalahan TKP dari saya. Tapi sidang etik sudah dikirim. Itu tetap mencegah penuntutan pelanggaran profesi,” ujarnya.

 

Kemudian Oegroseno mengatakan tidak menemukan OOJ dalam kasus meninggalnya Briptu J di Duren Tiga.

 

“Secara pribadi, saya tidak mengerti apa yang dikatakan OOJ. Tidak ada pelanggaran profesional yang dikriminalisasi, bahkan di seluruh dunia.”

 

“Ya sidang etik sudah dijadwalkan, kalau tidak nyaman bagi PTDH ya tidak masalah dilakukan. Itu yang utama, semoga tidak ada proses pidana seperti itu,” pungkasnya.

 

Baca juga: Sebelumnya: Jika rekomendasi LPSK tidak diperhatikan, kebutuhan Richard Eliezer bisa lebih besar.

 

Diketahui, pada 8 Juli 2022, Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J menjadi korban pembunuhan terkoordinasi yang dilakukan Ferdi Sambo.

 

Briptu Yosua tewas setelah ditembak di rumah dinas Ferdi Sambo, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Pembunuhan diduga terjadi setelah Putri Khadrawati memberi tahu Ferdi Sambo tentang pelecehan seksual yang dilakukan Magelang.

 

Saat itu Ferdi Sambo marah dan berencana membunuh Joshua.

 

Dalam kasus ini, Ferdi Sambo, Putri Khadrawati, Bripka Ricky Rizal alias Bripka RR, Kuwat Maruf dan Barada Richard Eliezer alias Barada dijerat dengan pasal pembunuhan berencana.

 

Kelima terdakwa dijerat dengan pasal 340 pasal 338 pasal 55 pasal 1 s/d (1) KUHP dengan ancaman hukuman maksimal mati.

 

Brigadir J tidak hanya dijerat dengan kasus pembunuhan berencana terhadap Ferdi Sambo, tetapi juga dengan Hendra Kurniawan, Agus Nurpatria, Chuck Putranto, Irfan Widianto, Arif Rahman Arifin dan Baikuni Wibowo karena menghalang-halangi proses peradilan.

 

Terdakwa diduga merusak atau menghilangkan barang bukti, termasuk rekaman CCTV dari kompleks kepolisian Duren Tiga.

 

Mereka dijerat dengan pasal 32 Ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 49 juncto Pasal 33 Sub Ayat 48 Ayat (1) UU ITE Tahun 2016, yang disebut menghalang-halangi keadilan. Pasal 233 KUHP Pasal 221 Ayat (1) s/d 2 KUHP Pasal 55 Ayat 1 s/d (1) KUHP.

 

Sumber artikel =https://www.tribunnews.com/nasional/2023/01/21/oegroseno-kelalaian-polisi-jangan-langsung-ooj-cukup-pelanggaran-profesi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

POST ADS1

POST ADS 2