Ketaatan pada Piququh Adat membangun fondasi toleransi Badui. -->

Iklan Semua Halaman

Follow Us

Ketaatan pada Piququh Adat membangun fondasi toleransi Badui.

Rabu, Desember 21, 2022
Ketaatan pada Piququh Adat membangun fondasi toleransi Badui.

Dunia-Ilmu.com, LEBAK – Masyarakat Baduy yang tinggal di Desa Kankes, Provinsi Lebak, Provinsi Banten, Kabupaten Levidamar, Badui Dalam dan Badui Luar sangat patuh pada hukum adat atau petunjuk (Pikukuh) yang diwariskan secara turun-temurun secara turun temurun. 

 

Pikukuh Badui adalah larangan adat yang mengatur kegiatan masyarakat Baduy menurut ajaran Sunda Wiitan.

 

Masyarakat Baduy tidak berubah dan tidak boleh melanggar semua yang pasti dalam hidup ini.

 

Baca juga: BPBD Kabupaten Lebak telah membangun posko evakuasi korban kebakaran di Badui Luar

Segala aktivitas masyarakat Baduy harus dilandasi oleh rukun kepercayaan Sunda (Badui pilar) yang merupakan ajaran kepercayaan orang Sunda.

 

Aturannya adalah ngukus (dupa), ngawalu (syukur saat puasa), muja ngalaksa (beras ke lumbung), ngalanjak (berburu), ngapundayan dan ngareksakeun sasaka pusaka.

 

Ajaran ini harus diikuti secara ketat oleh pemimpin adat, Pu. 

 

Puun harus menghormati dan mengikuti semua aturan karena Puun adalah ras Batara. 

 

Cara hidup masyarakat Sudan Wiwitan diatur oleh hukum adat Pikukuh yang ketat.

 

Pikukuh adalah aturan dan tata cara bagaimana perjalanan hidup yang harus dilakukan menurut perintah nenek moyang dan nenek moyang.

 

Baca juga: Wakil Sunda Wiwitan Kuningan, Ditolak Pembangunan Makam: Salah Kami Apa?

 

Piququh ini merupakan orientasi, konsep dan kegiatan keagamaan masyarakat Baduy.

 

Seperti yang dijelaskan oleh nenek moyang mereka (pantang, pantang) sejauh ini Badui Pikukh tidak mengubah apapun.

 

Leluhur adalah orang yang mengatasi masalah apa pun.

 

Warga suku Badui berjalan kaki mencoba madu tradisional seharga Rp 120.000 per botol di kawasan Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (5/3/2017).  Orang Badui menempuh jarak 200 km dalam lima hari untuk menjual kerajinan tangan dan hasil hutan di Jakarta.  (CT Gazette/Henry Lopulalan)
Warga suku Badui berjalan kaki mencoba madu tradisional seharga Rp 120.000 per botol di kawasan Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (5/3/2017). Orang Badui menempuh jarak 200 km dalam lima hari untuk menjual kerajinan tangan dan hasil hutan di Jakarta. (CT News/Henry Lopulalan) (CT News/Henry Lopulalan Daily)

 

Leluhur tidak dituangkan dalam bentuk tertulis, tetapi diwujudkan dalam aktivitas sehari-hari masyarakat Badui saat mereka berinteraksi satu sama lain, lingkungan alamnya, dan Tuhannya. 

 

Piququh Badui membawahi lembaga yang ada di masyarakat Badui yaitu lembaga adat Badui yang dipimpin oleh ketiga Pu’u tersebut.

 

Sumber artikel =https://www.tribunnews.com/regional/2022/12/21/ketaatan-pada-pikukuh-adat-membangun-dasar-sikap-toleransi-masyarakat-badui