Informasi ekologis yang komprehensif diperlukan untuk memulihkan fungsi hutan kacang yang terdegradasi

Dunia-Ilmu.com, Bogor – Hutan rawa gambut tropis adalah salah satu ekosistem hutan penyimpan karbon terbesar dan memainkan peran sentral dalam memerangi perubahan iklim di Bumi.

Total lahan gambut di Indonesia meliputi area 13,4 – 14.9Mha, tetapi sebagian dari hutan rawa tropis telah terdegradasi oleh pertanian, penebangan dan kegiatan konversi lahan lainnya, serta kebakaran hutan.

Hutan gambut yang terdegradasi ini merupakan penyerap dan penyimpan karbon terbesar di dunia, dan langkah-langkah strategis dan sistematis diperlukan untuk memulihkan keseimbangan iklim.

Pusat Penelitian Ekologi dan Etnobiologi, Badan Penelitian dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Rimba McMur Utama (RMU) berinisiatif menandatangani perjanjian kerjasama kerjasama penelitian yang dilakukan oleh Kepala Pusat Penelitian Ekologi dan Etnobiologi BRIN. dr. Anang Setiawan Achamadi, SKH, MSc dan CEO PT RMU, Dharsono Hartono, Rabu (2/11/2022).

Penandatanganan PKS ini merupakan bagian dari rangkaian agenda penelitian kerjasama antara PT RMU dan BRIN.

Ia sebelumnya menandatangani dua PKS lainnya, yakni kerjasama penelitian antara RMU, Pusat Penelitian Fisika BRIN – Dr. Albertus Suleiman dan Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB – Prof. Tania Juni; dan PKS di Puslitbang Teknologi Pertambangan oleh Dr. Angoro Tri Murcito.

Baca juga: Inventarisasi KLHK: 206.935 hektar lahan gambut dalam kondisi rusak sangat parah

Menurut Associate Researcher BRIN I Wayan Susi Dharmawan, restorasi hutan rawa gambut harus dimulai dengan perencanaan yang matang agar kekeringan tidak semakin parah.

Untuk itu, penting untuk mendukung informasi ekologi, terutama struktur dan komposisi hutan saat ini, serta kegiatan restorasi hutan untuk memfasilitasi upaya restorasi.

Baca juga: Di Kalimantan Tengah tidak ada pembakaran atau pertanian kimia di lahan gambut

“Diharapkan melalui rangkaian kajian yang diuraikan dalam Kerangka Acuan (KAK), ilmu pengetahuan dan teknologi akan mendukung restorasi lahan gambut, termasuk aspek hidrologi, pemilihan jenis tumbuhan dan upaya konservasi tanah dan air lahan gambut,” kata Wayne.

General Field Manager PT RMU Taryono Darusman Sebagai penjaga ekosistem hutan gambut di Kalimantan Tengah, kami menyadari sepenuhnya pentingnya ekosistem hutan gambut, mulai dari manfaat pengendalian iklim, pencemaran dan pengendalian banjir melalui Proyek Katingan Mentaya. Menyediakan sumber makanan, serat dan air.

“Ini juga mendukung keanekaragaman hayati yang luar biasa, manfaat rekreasi dan banyak lagi,” katanya.

Baca juga: BRGM dapat menggunakan KLHK IGT untuk restorasi gambut dan restorasi mangrove yang lebih sistematis.

Taryono menambahkan, pihaknya bertanggung jawab menjaga ekosistem hutan dan merehabilitasi lahan kritis di kawasan proyek Katingan Mentaya.

“Hasil kerjasama penelitian ini akan membantu memperlancar pekerjaan restorasi hutan yang dilakukan oleh kami dan berbagai pihak karena berbasis penelitian ilmiah,” ujarnya.

Sumber artikel =https://www.tribunnews.com/nasional/2022/11/04/informasi-ekologi-menyeluruh-dibutuhkan-untuk-kembalikan-fungsi-hutan-gambut-yang-terdegradasi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

POST ADS1

POST ADS 2