Dibayangi resesi global, ekonomi dan pasar modal Indonesia dinilai masih bertahan. -->

Iklan

Dibayangi resesi global, ekonomi dan pasar modal Indonesia dinilai masih bertahan.

Senin, Oktober 03, 2022

Dunia-Ilmu.com, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi dan pasar modal Indonesia dinilai masih sangat menjanjikan oleh banyak pengamat dan analis ekonomi, meskipun diliputi ketidakpastian dan gejolak ekonomi global yang masih berlangsung.

Diketahui, ada berbagai kondisi perekonomian dunia yang kurang kondusif mulai dari pengetatan kebijakan bank sentral dan kenaikan suku bunga hingga inflasi. Situasi ini mempengaruhi semua sektor dan pasar di dunia, termasuk pasar modal.

Asisten Peneliti – Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial LPEM-FEBUI Syahda Sabrina, pemulihan ekonomi dunia sedikit terhambat oleh perang antara Rusia dan Ukraina, yang menyebabkan pasokan terputus dan kekurangan banyak barang, menyebabkan harga naik. Termasuk minyak mentah, gas alam dan beberapa komoditas pangan. Selain itu, proses pemulihan ekonomi turut mempengaruhi tren pengetatan moneter internasional.

Baca juga: Analis: Ekonomi global 2023 dalam bayang-bayang resesi dan risiko tergesa-gesa

Sayada mengatakan kenaikan harga komoditas terutama karena meningkatnya permintaan selama pemulihan ekonomi, dan masalah geopolitik Rusia-Ukraina diperburuk. Inflasi dunia sejak itu meningkat tajam.

Di Indonesia, inflasi pada Agustus tercatat sebesar 4,69 persen, melebihi target BI sebesar 3±1 persen. Peningkatan inflasi harus diharapkan oleh bank sentral di seluruh dunia. Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, telah menaikkan suku bunga BI.

“Suku bunga The Fed meningkat 300 basis poin pada 2022. Kenaikan suku bunga di AS meningkatkan spread dengan negara berkembang, sehingga capital outflow tidak bisa dihindari,” jelas Syahda dalam diskusi investasi. Pidato bertema “Queen’s Gambits: Strategy in the economy resesi”, Minggu (2/10/2022).

Menurut Syahda, arus modal di Indonesia masih bisa tertangani dan berkelanjutan. Dalam mata uang Rupee yang sama dalam Dolar Amerika Serikat. Hingga September 2022, rupiah terdepresiasi sebesar 6,98 persen (year-to-date), jauh lebih baik dibandingkan negara lain.

“Ini karena struktur perdagangan internasional Indonesia masih didominasi barang. Indonesia terpukul oleh kenaikan harga komoditas. Surplus neraca perdagangan akan tetap konsisten dari Mei 2020 hingga September 2022, ditopang oleh batu bara dan minyak sawit, kata Syahda.

Baca juga: Dengan resesi di depan mata, mempertimbangkan investasi yang tepat, uang tunai analis adalah rajanya.

Bank Dunia mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menjanjikan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap 5,1 persen pada 2022. Tentunya kondisi dan fundamental ekonomi Indonesia akan berdampak positif bagi pasar modal di negara ini.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Riset NH Korindo Securitas Indonesia Lisa Camelia Suryanata mengatakan, pelaku pasar modal domestik lega dengan ditutupnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sementara indeks saham Dow Jones turun. Tingkat 7.040. Indeks Dow Jones ditutup pada 28.730, yang sebelumnya di 30.000. Ke depan, Dow Jones diperkirakan akan melanjutkan tren penurunannya, meskipun masih ada peluang rebound.

Sumber artikel =https://www.tribunnews.com/bisnis/2022/10/03/dibayangi-resesi-global-ekonomi-dan-pasar-modal-indonesia-dinilai-mampu-bertahan