2 putri tewas dalam kecelakaan Kanjuruhan, Devi membatalkan post-mortem karena polisi sering mengunjunginya -->

Iklan

2 putri tewas dalam kecelakaan Kanjuruhan, Devi membatalkan post-mortem karena polisi sering mengunjunginya

Kamis, Oktober 20, 2022
2 putri tewas dalam kecelakaan Kanjuruhan, Devi membatalkan post-mortem karena polisi sering mengunjunginya

Dunia-ilmu.com, Malang – Devi Athok tidak nyaman dengan kunjungan polisi yang berulang kali terkait kesediaan Yulfitri mengizinkan jenazah kedua putrinya diperiksa.

Kedua putrinya Natasia Ramadani (16) dan Naila Angrani (14) menjadi korban kecelakaan Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur.

Baca juga: LPSK kembali ke Kanjuruhan, menyelidiki dugaan intimidasi dari anggota polisi kepada keluarga korban.

Selain kedua anaknya, kematiannya didahului oleh mantan istrinya, Debbie Astha (35). Ketiganya meninggal pada tanggal 13.

Seorang warga Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menyatakan kesediaannya untuk dilakukan otopsi nanti.

Sebelumnya, dia menginginkan otopsi untuk mengetahui penyebab pasti kematian kedua putrinya.

Davy Athok menjelaskan, ada dua alasan Yulfitri mencabut izinnya untuk dilakukan otopsi.

“Kalau otopsi dulu, bukan hanya polisi, tapi juga pihak luar (terlibat), kalau tidak tidak perlu (melakukan otopsi),” katanya. TribunJatim.com, Rabu (19/10/2022).

Kemudian yang kedua adalah keluarga korban yang meninggal dalam kecelakaan Kanjuruhan tidak berminat untuk melakukan otopsi.

Baca juga: Stadion Kanjuruhan rencananya akan dibangun pada awal tahun 2023. Dibangun dengan standar FIFA

“Kenapa keluarga korban kecelakaan Kanjuruhan tidak ikut di visum? Kalau otopsi selesai, harus berkorban dan tidak tinggal diam. Post mortem,” ujarnya.

Selain tidak mendapat dukungan dari siapa pun atas perjuangannya, Devi mengatakan bahwa beberapa polisi mengunjunginya dan langsung datang ke rumahnya.

Seingat Davey, dia menerima tiga kunjungan dari polisi. Kedatangan petugas polisi tidak dalam situasi berbahaya. Namun, mereka mempertanyakan tujuan otopsi.

“Tiga kali (didatangi polisi). Mereka datang berkelompok. Tidak ada kata-kata mengancam, tapi mereka takut datang,” ujarnya jujur.

Baca juga: Komnas HAM tetap mengirimkan tim ke Malang meski evakuasi Kanjuruhan dibatalkan

Akhirnya, pada 17 Oktober 2022, ia memutuskan untuk meninggalkan keinginannya untuk memeriksa sisa-sisa kedua putrinya.

Keputusan untuk membatalkan otopsi dibuat dalam surat yang ditulis polisi ke rumahnya.

Sumber artikel =https://www.tribunnews.com/regional/2022/10/20/2-putrinya-jadi-korban-tewas-tragedi-kanjuruhan-devi-batalkan-autopsi-karena-kerap-didatangi-polisi